KACAMATA TOGIAN PLECI TANPA KACAMATA DARI SULAWESI
January 09, 2019
Add Comment
Dari beragam jenis burung pleci atau kacamata yg terdapat di dunia, hanya terdapat satu jenisnya yg baru dikenal sang global luas yaitu kacamata togian. Spesies kacamata yg baru dideskripsikan pada tahun 2008 ini adalah endemik Kepulauan Togian, Sulawesi Tengah. Meskipun termasuk jenis burung kacamata, tetapi kacamata togian relatif unik karena tidak mempunyai lingkar mata putih sebagaimana jenis pleci pada umumnya.
Nama latin kacamata togian adalah Zosterops somadikartai, nama tersebut dipakai buat menghormati Prof. Soekarja Somadikarta, Bapak Ornitologi Indonesia yg jua pioner cikal bakal penelitian observasi burung secara sistemik di Indonesia.
Kacamata togian hayati secara berkelompok, mereka umumnya ditemukan di semak-semak dekat hutan mangrove, kebun kelapa serta campuran, serta di hutan-hutan terbuka di dataran rendah dengan ketinggian kurang berdasarkan 100 meter pada atas bagian atas bahari.
Jenis burung kacamata ini relatif menarik perhatian para peneliti lantaran memiliki bagian dahi yang berwarna hitam seperti yg dimiliki sang kacamata dahi-hitam atau Zosterops atrifrons yang pula banyak ditemukan di wilayah Sulawesi, tapi yang unik merupakan kacamata togian ini justru tanpa kacamata atau bundar berwarna putih yang ada pada sekeliling mata.
Agustus 1996 adalah kali pertama spesies burung ini teramati pada Pulau Malenge sang Mochamad Indrawan serta Sunarto berdasarkan Universitas Indonesia. Setelah itu, kacamata ini balik teramati dalam bulan Juni 1997 dan Mei 2001 sang ke 2 peneliti tadi.
Untuk meneliti jenis kacamata yang baru ditemukannya itu, Indrawan kemudian mengambil spesimen jenis kacamata ini, kemudian pada tahun 2008 spesimen yg disimpan di Museum Zoologi Bogor itu lalu dibandingkan menggunakan jenis kacamata lain yg masih ada pada Wallacea. Hasil penelitian tersebut menemukan bahwa jenis kacamata ini mempunyai beberapa perbedaan menggunakan kacamata dahi-hitam, mulai berdasarkan warna hitam yang lebih sempit, ukuran tubuh dan paruh yang lebih tipis.
Penampilan kacamata togian sangat mirip kacamata dahi-hitam, tetapi tanpa lingkar mata putih (kacamata), selain itu warna hitam dalam dahinya pun lebih sempit menggunakan warna tenggorokan yg lebih kuning. Tubuh bagian bawah berwarna abu-abu sedangkan permukaan berwarna zaitun-pucat, pangkal paruh mempunyai warna yg lebih pucat serta iris mata yg kemerahan. Karakter vokalnya pun cukup tidak sama dengan jenis kacamata lainnya, karena itulah, spesies burung kacamata ini kemudian ditetapkan menjadi jenis baru.
Terbatasnya daerah persebaran serta kawasan yang terfragmentasi menciptakan kacamata togian pernah dipercaya pada status Genting, namun lantaran jenis kacamata ini ternyata mampu beradaptasi dengan perubahan habitat serta juga terbiasa dengan kegiatan insan, maka statusnya lalu diturunkan menjadi Terancam Punah oleh IUCN.
Sulawesi diperkirakan mempunyai 9-10 jenis burung kacamata, termasuk yg tersebar di pulau-pulau yg terisolir. Adanya isolasi tadi memungkinkan terjadinya disparitas morfologi serta jua disparitas pada bunyi kicauannya.
Semoga berguna
Nama latin kacamata togian adalah Zosterops somadikartai, nama tersebut dipakai buat menghormati Prof. Soekarja Somadikarta, Bapak Ornitologi Indonesia yg jua pioner cikal bakal penelitian observasi burung secara sistemik di Indonesia.
Kacamata togian hayati secara berkelompok, mereka umumnya ditemukan di semak-semak dekat hutan mangrove, kebun kelapa serta campuran, serta di hutan-hutan terbuka di dataran rendah dengan ketinggian kurang berdasarkan 100 meter pada atas bagian atas bahari.
Jenis burung kacamata ini relatif menarik perhatian para peneliti lantaran memiliki bagian dahi yang berwarna hitam seperti yg dimiliki sang kacamata dahi-hitam atau Zosterops atrifrons yang pula banyak ditemukan di wilayah Sulawesi, tapi yang unik merupakan kacamata togian ini justru tanpa kacamata atau bundar berwarna putih yang ada pada sekeliling mata.
Agustus 1996 adalah kali pertama spesies burung ini teramati pada Pulau Malenge sang Mochamad Indrawan serta Sunarto berdasarkan Universitas Indonesia. Setelah itu, kacamata ini balik teramati dalam bulan Juni 1997 dan Mei 2001 sang ke 2 peneliti tadi.
Untuk meneliti jenis kacamata yang baru ditemukannya itu, Indrawan kemudian mengambil spesimen jenis kacamata ini, kemudian pada tahun 2008 spesimen yg disimpan di Museum Zoologi Bogor itu lalu dibandingkan menggunakan jenis kacamata lain yg masih ada pada Wallacea. Hasil penelitian tersebut menemukan bahwa jenis kacamata ini mempunyai beberapa perbedaan menggunakan kacamata dahi-hitam, mulai berdasarkan warna hitam yang lebih sempit, ukuran tubuh dan paruh yang lebih tipis.
Penampilan kacamata togian sangat mirip kacamata dahi-hitam, tetapi tanpa lingkar mata putih (kacamata), selain itu warna hitam dalam dahinya pun lebih sempit menggunakan warna tenggorokan yg lebih kuning. Tubuh bagian bawah berwarna abu-abu sedangkan permukaan berwarna zaitun-pucat, pangkal paruh mempunyai warna yg lebih pucat serta iris mata yg kemerahan. Karakter vokalnya pun cukup tidak sama dengan jenis kacamata lainnya, karena itulah, spesies burung kacamata ini kemudian ditetapkan menjadi jenis baru.
Terbatasnya daerah persebaran serta kawasan yang terfragmentasi menciptakan kacamata togian pernah dipercaya pada status Genting, namun lantaran jenis kacamata ini ternyata mampu beradaptasi dengan perubahan habitat serta juga terbiasa dengan kegiatan insan, maka statusnya lalu diturunkan menjadi Terancam Punah oleh IUCN.
Sulawesi diperkirakan mempunyai 9-10 jenis burung kacamata, termasuk yg tersebar di pulau-pulau yg terisolir. Adanya isolasi tadi memungkinkan terjadinya disparitas morfologi serta jua disparitas pada bunyi kicauannya.
Semoga berguna
0 Response to "KACAMATA TOGIAN PLECI TANPA KACAMATA DARI SULAWESI"
Post a Comment