MENGENANG KEJAYAAN BURUNG IMPOR DI BOGOR
January 09, 2019
Add Comment
Sekitar tahun 90an mungkin itulah tahun kejayaan burung - burung imporan berdasarkan negeri tirai bambu china , mulai menurut burung robin, hwamey, samho, Jalak hongkong dan Poksay. Burung burung ini pun selalu tergantung di setiap kios - kios burung yang terdapat di kota bogor saat itu disekitar jalan Gg Mekah dan pada tanjakan empang dijajaran rel kereta barah bogor - sukabumi. Burung lokal sejenis ciblek, trucukan, kutilang, masih kurang peminatnya mungkin dikarenakan suaranya yg nir terdengar mengalun atau bernyanyi misalnya yang kebanyakan dicari sang penggemar burung kicauan di masa itu.
Banyaknya burung - burung impr tadi dipasaran membuat harga burung - burung ini semakin murah dalam jamannya, buat seekor robin yg gacor saja dibanderol dengan harga 35rb - 50rb, sedangkan buat Poksay yang telah gacor dan bergaya dihargai 100rb - 150rb, buat hwamey gacor dihargai 100-200rb. Kemudahan mendapatkan burung - burung kicauan tersebut pula dibarengi dengan kemudahan memperoleh warta menurut banyaknya tabloid - tabloid burung yg tersebar disini serta dipajang disetiap kios-kios burung akbar.
Sekarang betapa sulitnya kita mendapatkan burung - burung tersebut, bahkan saking langkanya hingga - sampai burung robin pun mampu dihasilkan dengan harga yg 2 ratus persen lebih mahal menurut harga aslinya. Juga burung hwamey yg dinegerinya sendiri tak jarang dijadikan menjadi burung aduan bernasib sama dengan burung robin serta poksay. Kalau dahulu perkara primer yg sebagai asal menghilangnya burung impor menurut china merupakan perkara penyebaran Flu Burung sehingga Pemerintah menutup total pintu masuk satwa serta unggas dari negeri tirai bambu tadi, serta ternyata imbasnya sampai hari ini. Kenapa , ada apa menggunakan importir burung - burung kita ? Apakah perkara bea masuk yang mungkin dianggap terlalu tinggi, ataukah ada hal lain yg membuat importir kita terbatas dalam mengirimkan burung - burung ini dari negeri seberang. Kita menjadi penggemar burung kicauan hanya sanggup menunggu siapa importir yg berani mengembalikan kejayaan burung - burung impor di bogor khususnya pada indonesia agar dunia perburungan pada sini lebih bervariasi dan lebih atraktif dengan hadirnya kembali kontes - kontes burung sekelas hwamey dan poksay.
Efek lain dari hilangnya burung impor tadi ternyata membawa dampak buruk bagi kelangsungan hidup burung - burung lokal asli indonesia. Sekarang burung burung lokal tengah naik daun serta harganyapun turut melonjak sampai menyebabkan penangkapan yg berlebihan buat memperoleh laba lebih banyak. Burung Ciblek contohnya, kalau dahulu burung ini selalu menghiasi halaman serta kebun kita sekarang sudah berangsur - angsur menghilang dari alamnya, kutilang, toed, jrogjrog lalu burung kacamata yang selalu bergerombol pada pohon - pohon jambu atau nangka kini yg terdengar cuma satu atau 2 ekor saja. Lalu apakah imbasnya harus kehilangan juga burung - burung asli indonesia ini ? Yang niscaya , kita menjadi penggemar burung kicauan harus juga menjaga syarat alam serta lingkungan untuk berkembang biaknya burung-burung liar lokalan kita.serta dengan upaya penangkaran beberapa jenis burung tertentu jua bisa menciptakan burung burung asli indonesia akan permanen terawat dihabitatnya. Jangan sampai hilangnya burung impor dipasaran malah menciptakan hilang burung lokal kita pada alamnya.
sumber: banyak sekali sumber
0 Response to "MENGENANG KEJAYAAN BURUNG IMPOR DI BOGOR"
Post a Comment