KISAH INSPIRASI PERTOBATAN DARTO SI PENCARI BURUNG
January 09, 2019
Add Comment
Menjadi seseorang kicaumania tidak berarti mampu bebas memilih jenis brung yg dipiara, ada beberapa jenisnya yg memang mampu dijadikan menjadi burung piaraan tapi ada pula beberapa yang termasuk jenis yang harus permanen berada pada alam liar buat menjaga keseimbangan alam. Jika hal itu dilanggar, maka nir mustahil akan ada kerugian-kerugian bagi insan seperti hama wereng, agresi ribuan ulat, tomcat, serta populasi serangga yang kian tak terkontrol lantaran hilangnya predator. Untuk mendorong kicaumania supaya lebih menghargai alam, berikut ini kisah wangsit yg relatif menarik buat disimak, yaitu kisah pertobatan Darto si pencari burung.
Selamat menyimak:
Setelah berhenti menurut Sekolah Menengah Atas yang hanya dicicipinya selama 3 semester dampak ketiadaan porto, Darto sulung dari tiga bersaudara bekerja serabutan guna meringankan beban ibunya yang telah janda pada memenuhi kebutuhan famili. Khususnya, buat membiayai sekolah dua adiknya yang masih duduk di kelas lima dan 6 sekolah dasar.
Di ketika-waktu tidak ada pekerjaan yang ditawarkan orang padannya Darto menghabiskan waktu buat menangkapburung pada semak belukar di atas perbukitan tak jauh berdasarkan kampungnya. Burung-burung output buruannya itu dijualnya ke penadah pada pasar.
Hasilnya, tidak mengecewakan. Dalam sehari beliau sanggup menangkap dua-tiga ekor burung. Apabila sedang mujur,terdapat kalanya burung yg tertangkap itu menurut jenis yg sangat digemari orang sehingga beliau sanggup membawa pulang uang hingga ratusan ribu rupiah.
Merasakan betapa mudahnya memperoleh uang menggunakan berburu burung, akhirnya pekerjaan yg awalnya hanya menjadi pengisi saat “nganggur” itu pun ditekuninya sebagai mata pencaharian. Darto pun mendapat julukan berdasarkan orang kampungnya dengan sebutan “Darto Burung”.
Tak terasa sudah 3 tahun Darto menjalani profesi pemburu burung. Berkat jerih payahnya itu kedua adiknya pun sanggup melanjutkan pendidikan mereka ke jenjang SMP. Selama itu semuanya berjalan normal serta lancar-lancar saja, sampai suatu hari….
“Ada apa Dar, kok kamu tampak indolen sekali?” tanya ibunya menyambut kedatangan Darto yg dalam hari itu pulang lebih awal.
“Kalo lagi gak bisa tangkapan ya gak usah sedih, mungkin belum rejeki” hibur ibunya.
“Lho, itu mata mu kok sembab misalnya orang yg habis menangis? Tanya ibunya setelah Darto melepaskan topi capingnya.
Tanpa menjawab pertanyaan ibunya, Darto justru merogoh kurungan burung hasil tangkapan selama 2 hari yg belum sempat dijualnya.
“Maafkan saya, maafkan saya, maafkan saya” gumam Darto sembari terisak dengan tatapan mata penuh sesal ke arah burung-burung di pada kurungan tersebut. Bersamaan dengan ucapan mohon maaf itu tangan Darto membuka tutup kurungan serta membiarkan burung-burung pada dalamnya beterbangan
“Kenapa engkau Nak, apa yg terjadi? Kenapa burung-burung itu kamu lepaskan? Itukan uang, hasil jerih payah mu sendiri, Nak” desak ibunya yg nir mengerti dan mulai kuatir menggunakan keadaan anak sulungnya itu.
Setelah semua burung pada kurungan itu habis beterbangan pulang ke alam bebas, barulah Darto berpaling ke arah Ibunnya.
“Maafkan Darto, ya Bu” jawab Darto lirih.
“Aku sengaja melepaskan burung-burung itu buat menebus dosa ku pada seluruh burung-burung yang saya tangkap dan kujual. Soal nilai uangnya, biarlah aku cari pekerjaan lain untuk merubahnya” lanjut Darto memulai kisah “pertobatannya” itu.
Ini kisahnya:
Dua hari sebelumnya ketika berburu Darto menemukan sebuah sarang burung yang pada dalamnya terdapat dua ekor anaknya yang masih merah, belum berbulu. Darto tahu bahwa sarang serta anak burung tadi merupakan dari jenis yang banyak penggemarnya serta berharga relatif mahal, karena itu dia putuskan buat menangkap induknya.
Darto lalu memasang jebakan menggunakan “pulut” (getah yang mampu lengket seperti permen karet). Pulut itu dia lumurkan pada ranting pada sekeliling verbal kandang dimana sang induk pasti akan menginjaknya saat memberi makan anaknya atau sebelum masuk ke sarang.
Sebelum menemukan sarang itu Darto telah memasang banyak jebakan lain pada sekitarnya. Ada yang dipasang di sekitar pohon yg sedang berbuah masak, ada yang dipasang di didekat genangan air, ada pula yg dipsang di dekat sarang rayap.
Menjelang sore, tibalah waktunya Darto “memanen” output jebakan-jebakan yg dipasangnya. Luar biasa. Hari itu beliau dapat tujuh ekor burung berdasarkan banyak sekali jebakan yg dia pasang. Sayangnya dia lupa sudah memasang jebakan di lisan sarang burung yang terdapat anaknya, sehingga nir mendatangi jebakan tadi.
Hari itu Darto pergi menggunakan perasaan girang bukan kepalang, tangkapan hari itu adalah rekor baru baginya. Lantaran merasa residu uang output penjualan terakhir masih ada, Darto memutuskan untuk menunda menjualnya, serta beristirahat sehari.
Itu sebabnya burung-burung tersebut dia masukkan ke dalam kurungan.
Dua hari kemudian dia kembali berburu ke tempat yang sama dan dengan cara yang sama.
Selesai memanen 3 ekor burung hasil jebakan hari itu teringatlah Darto akan pulut yang dia pasang di sarang yang berisi 2 anak burung yg masih merah tersebut.
Benar dugaan Darto, induk burung terjebak pulut dengan mudah. Bukan hanya ke 2 kakinya, tetapi pula bulu-bulu tubuh dan sayap burung tersebut lengket dalam ranting berpulut.
Yang tidak terpikirkan sang Darto saat memasang pulut merupakan masa depan si anak burung. Satu berdasarkan tiga anak burung tadi sudah mati, satu lagi sedang sekarat, sementara seekor sisanya tak lagi bisa menangkat kepalanya meski masih bisa mencicit memanggil induknya.
Menyaksikan pemandangan itu, seperti orang yg baru terbangun menurut tidur, kesadaran hakiki Darto sebagai makhluk mudun pun sontak tersentuh. Rasa bersalah itu menusuk kalbunya yg paling dalam, sehingga tanpa beliau sadari matanya telah basah, Darto pun tersedu.
Yang lebih membuat Darto sangat terharu sehingga menyebabkan matanya sembab dampak tangis, adalah ketika mendapati pada paruh induk burung, yang sudah sangat lemah akibat terus meronta ingin melepaskan diri berdasarkan jebakan pulut itu, masih terselip makanan yg akan disuapkan siinduk kepada anak-anaknya. Luar biasa. Dalam keadaan tubuh terikat, di saat kepastian hidup nir jelas, si induk burung nir membuang atau menelan makanan yang dia peruntukkan bagi anak-anaknya.
“Maafkanlah aku … maafkan saya…saya menyesal..“ ratap Darto pada hadapan anak-anak burung yg akhirnya mangkat itu,
Kenyataan di depan matanya ini menciptakan Darto bersumpah:
Pertama, mulai ketika itu dia berhenti menjadi pemburu burung serta nir akan menyakiti fauna-hewan lainnya.
Kedua, bahwa beliau akan menegakkan rasa tanggung jawab serta arti cinta seperti si induk burung itu terhadap keluarganya.
Itulah Kisah “Darto Burung” yang bertobat menjadi pemburu burung.
Semoga cerita ini mampu menginspirasi poly kicaumania buat lebih menghargai alam serta isinya.
Selamat menyimak:
Setelah berhenti menurut Sekolah Menengah Atas yang hanya dicicipinya selama 3 semester dampak ketiadaan porto, Darto sulung dari tiga bersaudara bekerja serabutan guna meringankan beban ibunya yang telah janda pada memenuhi kebutuhan famili. Khususnya, buat membiayai sekolah dua adiknya yang masih duduk di kelas lima dan 6 sekolah dasar.
Di ketika-waktu tidak ada pekerjaan yang ditawarkan orang padannya Darto menghabiskan waktu buat menangkapburung pada semak belukar di atas perbukitan tak jauh berdasarkan kampungnya. Burung-burung output buruannya itu dijualnya ke penadah pada pasar.
Hasilnya, tidak mengecewakan. Dalam sehari beliau sanggup menangkap dua-tiga ekor burung. Apabila sedang mujur,terdapat kalanya burung yg tertangkap itu menurut jenis yg sangat digemari orang sehingga beliau sanggup membawa pulang uang hingga ratusan ribu rupiah.
Merasakan betapa mudahnya memperoleh uang menggunakan berburu burung, akhirnya pekerjaan yg awalnya hanya menjadi pengisi saat “nganggur” itu pun ditekuninya sebagai mata pencaharian. Darto pun mendapat julukan berdasarkan orang kampungnya dengan sebutan “Darto Burung”.
Tak terasa sudah 3 tahun Darto menjalani profesi pemburu burung. Berkat jerih payahnya itu kedua adiknya pun sanggup melanjutkan pendidikan mereka ke jenjang SMP. Selama itu semuanya berjalan normal serta lancar-lancar saja, sampai suatu hari….
“Ada apa Dar, kok kamu tampak indolen sekali?” tanya ibunya menyambut kedatangan Darto yg dalam hari itu pulang lebih awal.
“Kalo lagi gak bisa tangkapan ya gak usah sedih, mungkin belum rejeki” hibur ibunya.
“Lho, itu mata mu kok sembab misalnya orang yg habis menangis? Tanya ibunya setelah Darto melepaskan topi capingnya.
Tanpa menjawab pertanyaan ibunya, Darto justru merogoh kurungan burung hasil tangkapan selama 2 hari yg belum sempat dijualnya.
“Maafkan saya, maafkan saya, maafkan saya” gumam Darto sembari terisak dengan tatapan mata penuh sesal ke arah burung-burung di pada kurungan tersebut. Bersamaan dengan ucapan mohon maaf itu tangan Darto membuka tutup kurungan serta membiarkan burung-burung pada dalamnya beterbangan
“Kenapa engkau Nak, apa yg terjadi? Kenapa burung-burung itu kamu lepaskan? Itukan uang, hasil jerih payah mu sendiri, Nak” desak ibunya yg nir mengerti dan mulai kuatir menggunakan keadaan anak sulungnya itu.
Setelah semua burung pada kurungan itu habis beterbangan pulang ke alam bebas, barulah Darto berpaling ke arah Ibunnya.
“Maafkan Darto, ya Bu” jawab Darto lirih.
“Aku sengaja melepaskan burung-burung itu buat menebus dosa ku pada seluruh burung-burung yang saya tangkap dan kujual. Soal nilai uangnya, biarlah aku cari pekerjaan lain untuk merubahnya” lanjut Darto memulai kisah “pertobatannya” itu.
Ini kisahnya:
Dua hari sebelumnya ketika berburu Darto menemukan sebuah sarang burung yang pada dalamnya terdapat dua ekor anaknya yang masih merah, belum berbulu. Darto tahu bahwa sarang serta anak burung tadi merupakan dari jenis yang banyak penggemarnya serta berharga relatif mahal, karena itu dia putuskan buat menangkap induknya.
Darto lalu memasang jebakan menggunakan “pulut” (getah yang mampu lengket seperti permen karet). Pulut itu dia lumurkan pada ranting pada sekeliling verbal kandang dimana sang induk pasti akan menginjaknya saat memberi makan anaknya atau sebelum masuk ke sarang.
Sebelum menemukan sarang itu Darto telah memasang banyak jebakan lain pada sekitarnya. Ada yang dipasang di sekitar pohon yg sedang berbuah masak, ada yang dipasang di didekat genangan air, ada pula yg dipsang di dekat sarang rayap.
Menjelang sore, tibalah waktunya Darto “memanen” output jebakan-jebakan yg dipasangnya. Luar biasa. Hari itu beliau dapat tujuh ekor burung berdasarkan banyak sekali jebakan yg dia pasang. Sayangnya dia lupa sudah memasang jebakan di lisan sarang burung yang terdapat anaknya, sehingga nir mendatangi jebakan tadi.
Itu sebabnya burung-burung tersebut dia masukkan ke dalam kurungan.
Dua hari kemudian dia kembali berburu ke tempat yang sama dan dengan cara yang sama.
Selesai memanen 3 ekor burung hasil jebakan hari itu teringatlah Darto akan pulut yang dia pasang di sarang yang berisi 2 anak burung yg masih merah tersebut.
Benar dugaan Darto, induk burung terjebak pulut dengan mudah. Bukan hanya ke 2 kakinya, tetapi pula bulu-bulu tubuh dan sayap burung tersebut lengket dalam ranting berpulut.
Yang tidak terpikirkan sang Darto saat memasang pulut merupakan masa depan si anak burung. Satu berdasarkan tiga anak burung tadi sudah mati, satu lagi sedang sekarat, sementara seekor sisanya tak lagi bisa menangkat kepalanya meski masih bisa mencicit memanggil induknya.
Menyaksikan pemandangan itu, seperti orang yg baru terbangun menurut tidur, kesadaran hakiki Darto sebagai makhluk mudun pun sontak tersentuh. Rasa bersalah itu menusuk kalbunya yg paling dalam, sehingga tanpa beliau sadari matanya telah basah, Darto pun tersedu.
Yang lebih membuat Darto sangat terharu sehingga menyebabkan matanya sembab dampak tangis, adalah ketika mendapati pada paruh induk burung, yang sudah sangat lemah akibat terus meronta ingin melepaskan diri berdasarkan jebakan pulut itu, masih terselip makanan yg akan disuapkan siinduk kepada anak-anaknya. Luar biasa. Dalam keadaan tubuh terikat, di saat kepastian hidup nir jelas, si induk burung nir membuang atau menelan makanan yang dia peruntukkan bagi anak-anaknya.
“Maafkanlah aku … maafkan saya…saya menyesal..“ ratap Darto pada hadapan anak-anak burung yg akhirnya mangkat itu,
Kenyataan di depan matanya ini menciptakan Darto bersumpah:
Pertama, mulai ketika itu dia berhenti menjadi pemburu burung serta nir akan menyakiti fauna-hewan lainnya.
Kedua, bahwa beliau akan menegakkan rasa tanggung jawab serta arti cinta seperti si induk burung itu terhadap keluarganya.
Itulah Kisah “Darto Burung” yang bertobat menjadi pemburu burung.
Semoga cerita ini mampu menginspirasi poly kicaumania buat lebih menghargai alam serta isinya.
Tulisan ini bersumber menurut Kompasiana
0 Response to "KISAH INSPIRASI PERTOBATAN DARTO SI PENCARI BURUNG"
Post a Comment