SEJARAH AYAM ARAB
January 09, 2019
Add Comment
Ayam ini merupakan keturunan menurut Ayam Brakel Kriel-Silver dari Belgia. Disebut Ayam Arab karena 2 hal: pejantannya memiliki daya seksual yang tinggi dan keberadaannya pada Indonesia melalui telurnya yang dibawa oleh orang yg menunaikan ibadah haji dari Mekah. ( sama kayak cerek warna kuning yang dibawa jemaah haji menurut arab, dianggap cerek arab padahal made in china)
Kebanyakan rakyat memanfaatkan Ayam Arab karena produksi telurnya tinggi, mencapai 190-250 buah per tahun dengan berat telur 42,tiga gram. Kuning telur lebih akbar volumenya, mencapai 53,2% menurut total berat telur. Warna kerabang sangat bervariasi yakni putih, kekuningan serta coklat. Warna kulit yang kehitaman dengan daging yg lebih tipis dibanding ayam kampung menjadikannya sporadis dimanfaatkan menjadi pedaging.
Ayam Arab mudah dikenali dari bulunya. Pada sepanjang leher berwarna putih mengkilap, bulu punggung putih berbintik hitam, bulu sayap hitam bergaris putih dan bulu ekor dominan hitam bercampur putih. Sedang jenggernya berbentuk kecil berwarna merah belia dan mata hitam menggunakan dilingkari rona kuning. Ciri lain Ayam Arab ialah pejantannya dalam umur 1 ahad sudah tumbuh jengger, serta betina induk nir mempunyai sifat mengeram. Dari penampilan tubuhnya, tinggi Ayam Arab sampaumur mencapai 35 centimeter menggunakan bobot 1,5-2 kg. Kepalanya memiliki jengger berbentuk tunggal serta bergerigi. Ayam ini berbulu tebal. Bulu pada kurang lebih leher berwarna kuning serta putih kehitaman. Warna bulu badannya putih bertotol-totol hitam. Kokok bunyi jantan nyaring. Ayam Arab betina sampaumur tingginya mencapai 25 cm dengan bobot 1,0-1,lima kg. Kepalanya berjengger tipis, bergerigi. Badannya berbulu tebal. Selama usia produktif antara 0,8 1,5 tahun, betina arab terus-menerus bertelur, sehingga hampir setiap hari membuat telur.
0 Response to "SEJARAH AYAM ARAB"
Post a Comment